Jumat, 12 Desember 2014
Kembali Memeluk Bulan
Kembalikan Pelukan Bulan
Mentari pagi menerobos setiap sudut daun
jendela. Menghangatkan tubuh yang telah hancur bagai tembok yang di robohkan.
Mengingat kehidupan penuh sesak dan perjuangan seperti hidup para pejuang.
Menangani problematika hidup yang kian merumit. Tetap mencari celah untuk
berlindung. Walau kenyataan tetap datang tanpa ampun.
“Akh…
kenapa harus aku yang mengalami semua ini!!!”geramku sambil mengacak rambut
hingga seperti singa mengamuk. “Aku tak kuat menahan masalah yang begitu
membuatku bingung.”gerutuku duduk termenung bagai layang-layang yang hilang. Namun tarian serta nyanyian pepohonan
menguatkanku untuk maju sebagai orang pembawa kedamaian.
Sejuk
serta rimbunnya pepohonan membuatku melamun tanpa batas. Hingga aku sendiri tak
dapat mengendalikan fikiranku. Dari pagi hingga siang bahkan sore aku hanya
duduk termenung memandang kebesaran ciptaan Tuhan yang tiada tara. Serta
mencoba hilangkan masalah yang mengikatku.
“Kamu
kenapa Ta ?”tanya Fina ramah dengan balutan senyum khasnya. “Tidak apa-apa aku
hanya sedikit lelah.”jawabku sambil menyembunyikan masalahku. “Sungguh?”tanya
perempuan yang sedari tadi duduk di sebelahku itu. “Sungguh, aku tidak
bohong.”jawabku ragu sambil memakan permen kesukaanku. “Baiklah.”ucap Fina
seraya melambaikan tangan hendak meninggalkanku. Aku tinggal sendiri lagi di
bawah naungan pohon lebat duduk memandang langit yang mulai menguning dengan
dihiasi mega merah yang indah. “Sebaiknya aku pulang.”batinku sambil meraih tas
yang tergeletak di bawah pohon.
Sepanjang
jalan pulang tak ada terfikir apapun selain masalah hidup keluarga yang bisa
dibilang cukup menguras tenaga dan fikiran gadis cantik berambut panjang
berkacamata bingkai hitam tanpa lensa. Yang selalu berjalan menyusuri sudut
keramaian memikul tanggung jawab besar sebagai pemersatu orang tua. Sambil
terus berjalan melihat masa depan.
“Akhirnya
sampai juga”ucapku sambil memasuki rumah berpagar coklat dengan hiasan
bunga-bunga kuning yang harum. “Assalamu’alaikum”ucapku seraya membuka pintu
perlahan. Namun tak ada jawaban ramah orang penghuni rumah yang menyambut
melainkan teriakan amukan ibu yang semakin menjadi-jadi setelah bercerai dengan
ayah.
“Aku
tidak mau bercerai denganmu.”ucap ibu seraya melempar bantal hingga mengenai
ayah. Akupun berlari menuju kamar ibu dengan sekuat tenagaku yang tersisa. “Ibu
ada apa?”tanyaku sekeras mungkin hingga memecah keramaian ini. “Ibu tidak mau
bercerai dengan ayah!!”teriak ibu keras. “Ayah… Tita mohon ayah jangan kesini
lagi. Kedatangan ayah hanya akan menambah luka ibu.”ucapku seraya mendorong
tubuh renta ayah keluar dari kamar ibu. “Tita, ayah akan jelaskan
semuanya.”ucap ayah lirih. “Tidak, aku sudah tidak percaya lagi dengan
ayah!!”ujarku sambil berlari menuruni tangga untuk menuju kamarku dan menangis
sepuasnya disana. Aku tidak lagi berfikir apa lagi yang akan terjadi. Aku hanya
bisa pasrah menerima kenyataan. Walau aku berusaha satukan mereka.
Ku
tutup pintu yang tengah terbuka itu dengan sekuat tenaga. Terduduk melihat foto
yang di bingkai dengan hiasan kerang bertuliskan ‘ My Family’. Ya, foto
keluargaku. Aku hanya bisa meneteskan air mata ketika memandangnya. Aku terus
mencoba memejamkan mata kecilku dan merebahkan badan di tempat tidur keras
bagai batu. Hingga akhirnya aku lelap dalam impian indah di dunia mimpiku.
Telah
sebulan berlalu setelah kejadian malam itu walau aku masih terus mengingatnya
jelas. Setelah itu juga ibu sering melamun dalam hening malam di loteng. Aku
hanya bisa memandangnya dari bawah dengan tatapan penuh harap bahwa ayah bisa
kembali bersama dengan mereka seperti dulu. Ayah sebagai bulan dalam
malam-malamku serta ibu sebagai bintangku. Mereka cocok dan saling berpasangan.
“Hah… sepertinya hanya harapan.”ujarku lirih sambil menghilang antara
remang-remang gelap malam.
Hingga
suatu hari ku dengar bahwa keputusan ayahku untuk mencerai ibu karena ayah
bertemu lagi dengan cinta pertamanya yang sangat ayah cintai membuat aku sangat
terpukul. Tapi lebih terpukulnya lagi saat suatu ketika aku merasakan
penderitaan hebat kepalaku serasa berputar, rumah terasa terombang-ambing bagai
kapal akan tenggelam. Aku memutuskan untuk pergi menyusuri jalan menuju rumah
sakit. Setelah pemeriksaan ternyata aku terkena kanker otak stadium 4.
Aku bingung tak
ada tempat mengadu kecuali Tuhan. Ibu tak mungkin sanggup. Ayah mungkin ia
sudah melupakanku. Dengan perjuangan, aku hadapi kanker ini hingga satu bulan.
Sampai akhirnya aku tidak lagi bisa menahannya. Dan menulis surat untuk ibu
yang ku pikir, jika aku telah tiada, surat ini akan selalu mengingatkan ibu
akan diriku. Akhirnya aku terjatuh di sudut kamarku sambil memeluk foto
keluargaku.
“Tita…bangun,Nak.”ucap
ibu lembut. Namun tak ada jawaban. Ibu mencoba lagi “Tita…”teriak ibu lebih
keras. Namun lagi-lagi tiada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk mendobrak
kamar yang masih terkunci dari dalam itu. Setelah membukanya ibu terkejut
ketika melihat sosok anak perempuan kecilnya terduduk tak berdaya di sudut
kamarnya. Dengan darah segar mengalir dari hidungnya. Ibu bergegas mencari
rumah sakit terdekat.
“Bagaimana
keadaan anak saya Dok?”tanya Ibu pelan. “Anak ibu menderita penyakit kanker
otak stadium 4 yang sudah parah dan menjalar. Kemungkinan dia selamat hanya 10%
itupun karena keajaiban. Kalaupun di operasi itu percuma.”ujar dokter itu
dengan penuh penyesalan. “Terimakasih Dok.”ucap ibu sambil memasuki ruang perawatan.
“Bagaimana
keadaan Tita?”tanya ayah saat memasuki ruang perawatan. “Dia terkena kanker
otak stadium 4 dan kesempatan hidupnya tinggal 10%.”jawab ibu sambil menitikkan
air mata sedih. “Tapi sepertinya dia menulis surat untuk kita. Aku menemukannya
saat mencoba membawanya ke rumah sakit. Sebaiknya kita baca bersama-sama.”ujar
ibu seraya menyerahkan surat bersampul biru dengan hiasan bunga-bunga lili.
“Baiklah, kita baca bersama.”ucap ayah membuka surat itu.
Ayah….Ibu….
Kalian adalah
bulan dan bintang yang selalu bersinar di hatiku
Dan selalu
melengkapi satu sama lain
Aku berharap
kalian dapat bersatu
Hanya itu
permintaanku
Juga kumohon
ayah bisa melupakan cinta pertama ayah
Dan kembali lagi
seperti dulu, bersama aku dan ibu
Serta maafkan
aku
Aku sudah menyimpan
sakitku ini dari kalian
Aku tak ingin
kalian cemas
Ayah+Ibu+Aku=Satu
“Tita…”ujar ayah
lirih. “Mungkin dia sakit karena terlalu memikirkan kita.”ucap ibu masih
menitikkan air mata. “Jika memang seperti itu, aku akan kembali padamu serta
membangun rumah tangga damai seperti dulu. Demi rasa sayangku terhadap Tita aku
akan melupakan cinta pertamaku yang sangat berharga.”ikrar ayah sambil membelai
rambut panjangku. “Mari kita mulai dari awal.”ujar ibu seraya tersenyum.
Setelah itu
hari-hari mereka diisi dengan menjengukku dan merawatku. Mereka selalu terlihat
riang dalam kebersamaan. Seperti merasakannya, aku lalu terbangun dan tersadar
dari tidur panjangku selama dua minggu di ranjang rumah sakit. Rasanya seperti
mau patah tulang saat membuka mataku.
“Ayah…Ibu…”ucapku
saat melihat mereka tengah tidur di sudut kecil ruang perawatan. “Tita…”kaget
ayah. “Ibu, Tita sudah sadar!!”ujar ayah membangunkan ibu. “Alhamdulillah.”ucap
ibu sambil memelukku dengan balutan kasih sayang yang begitu terasa. “Sudahlah
Ibu. Tita tidak apa-apa.”ujarku lirih. “Tita… ayah sudah kembali bersama ibu.
Kamu harus cepat sembuh dan kita bersama lagi seperti dulu.”ucap ayah dengan
senyum yang indah penuh kesan. “Baiklah.”ujarku. Setelah melihat hasil
pemeriksaan ternyata aku bisa selamat dan kembali seperti sedia kala setelah
melakukan beberapa perawatan. Keajaiban membantuku.
Sujud syukur aku
dapat sembuh serta melihat keluargaku utuh selalu ku panjatkan dalam setiap doa
malamku. Hari-hari ceria bersama bulan dan bintangku bisa terulang kembali dan
akan bertahan selamanya hingga ajal memisahkan. Akhirnya aku bisa kembali
memeluk bulan dalam dekapku yang sempat hilang dari hidupku.
Langganan:
Postingan (Atom)







